Istilah gambut
Istilah yang sering muncul saat membicarakan gambut, dijelaskan singkat. Setiap istilah menautkan ke artikel yang membahasnya lebih lengkap.
- 3R restorasi
- Pendekatan restorasi gambut di Indonesia: pembasahan kembali (rewetting), penanaman kembali (revegetation), dan revitalisasi mata pencaharian. Selengkapnya
- Api membara (smouldering)
- Pembakaran tanpa nyala di dalam gambut kering. Bisa bertahan berminggu-minggu dan merambat di bawah permukaan, menghasilkan asap pekat. Selengkapnya
- Drought Code (DC)
- Indeks kekeringan lapisan organik dalam dari sistem peringkat bahaya kebakaran Kanada, dihitung dari suhu dan hujan harian. Kelas yang dipakai BMKG: di bawah 140 rendah, 140–260 sedang, 260–350 tinggi, di atas 350 ekstrem. Selengkapnya
- Fibrik, hemik, saprik
- Tingkat kematangan gambut menurut sisa serat tumbuhannya: fibrik paling mentah (serat lebih dari dua pertiga), hemik setengah matang, saprik paling matang (serat kurang dari sepertiga). Selengkapnya
- Fungsi lindung dan budidaya
- Pembagian ekosistem gambut menurut PP 71/2014. Fungsi lindung (paling sedikit 30% KHG, termasuk gambut 3 m atau lebih) dipertahankan alami. Fungsi budidaya boleh dimanfaatkan selama muka air tanah dijaga paling dalam 40 cm. Selengkapnya
- Gambut
- Tanah dari sisa tumbuhan yang terurai tidak sempurna karena terendam air, dengan ketebalan 50 cm atau lebih, yang terakumulasi pada rawa (PP 71/2014). Selengkapnya
- Gambut ombrogen
- Gambut yang hanya mendapat air dari hujan, biasanya bagian tengah kubah. Miskin hara dan sangat asam. Selengkapnya
- InSAR
- Teknik satelit radar yang mengukur perubahan tinggi permukaan tanah sampai milimeter, dipakai untuk memetakan penurunan tanah gambut. Selengkapnya
- Kering tak balik
- Gambut yang terlalu kering berubah sifat menjadi seperti arang yang menolak air, dan tidak lagi bisa menyerap air seperti semula walaupun hujan kembali turun. Selengkapnya
- Ketebalan gambut
- Jarak dari permukaan sampai tanah mineral di bawahnya, diukur dengan bor gambut. Kelasnya: sangat dangkal (< 0,5 m), dangkal (0,5–1 m), sedang (1–2 m), dalam (2–3 m), sangat dalam (> 3 m). Selengkapnya
- KHG (Kesatuan Hidrologis Gambut)
- Ekosistem gambut di antara dua sungai, di antara sungai dan laut, atau pada rawa. Satuan pengelolaan gambut di Indonesia, karena air satu kubah bergerak sebagai satu sistem. Peta nasional memuat 865 KHG. Selengkapnya
- Kubah gambut
- Bentuk khas gambut di antara dua sungai: tebal di tengah, menipis ke tepi. Bagian tengahnya hanya mendapat air dari hujan dan menjadi cadangan air seluruh kubah. Selengkapnya
- Paludikultur
- Budidaya di lahan basah yang tetap basah, dengan tanaman rawa seperti sagu, jelutung, purun dan gelam. Selengkapnya
- Penurunan tanah (subsiden)
- Turunnya permukaan gambut setelah dikeringkan, karena pemadatan, penyusutan dan penguraian. Umumnya beberapa sentimeter per tahun selama lahan tetap kering. Selengkapnya
- Pirit
- Mineral besi sulfida di endapan laut di bawah sebagian gambut pantai. Aman selama terendam; bila terkena udara teroksidasi menjadi asam sulfat yang meracuni tanaman. Selengkapnya
- Sekat kanal
- Bendungan kecil melintang di kanal untuk menahan air di dalam kubah gambut. Salah satu cara utama membasahi kembali gambut. Selengkapnya
- Titik panas (hotspot)
- Piksel citra satelit yang jauh lebih panas dari sekitarnya. Belum tentu kebakaran; Gambut Intelijen hanya menghitung kebakaran yang terkonfirmasi oleh beberapa pengamatan. Selengkapnya
- Titik penaatan
- Titik ukur muka air tanah yang ditetapkan untuk menilai kepatuhan sebuah areal terhadap batas 40 cm (Permen LHK P.15/2017). Selengkapnya
- TMAT (tinggi muka air tanah)
- Kedalaman air tanah diukur dari permukaan gambut ke bawah. Di lahan gambut budidaya tidak boleh lebih dari 40 cm di bawah permukaan pada titik penaatan (PP 57/2016). Selengkapnya