Akademi Gambut · Dasar-dasar gambut
Apa itu gambut
Gambut adalah tanah dari sisa tumbuhan yang tidak sempat membusuk karena terendam air. Begini cara terbentuknya, kenapa bentuknya seperti kubah, dan kenapa ia begitu mudah rusak.
Gambut adalah tanah yang hampir seluruhnya tersusun dari sisa tumbuhan. Daun, ranting, akar dan batang pohon jatuh ke rawa yang airnya tergenang hampir sepanjang tahun. Karena air menutup pori-pori tanah, oksigen tidak masuk, dan bakteri serta jamur pengurai tidak bisa bekerja dengan baik. Sisa tumbuhan itu akhirnya menumpuk lebih cepat daripada membusuk. Lapis demi lapis, selama ribuan tahun, tumpukan inilah yang menjadi gambut.
Peraturan pemerintah memakai definisi yang jelas. Menurut PP 71/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, gambut adalah material organik yang terbentuk secara alami dari sisa tumbuhan yang terdekomposisi tidak sempurna, dengan ketebalan 50 sentimeter atau lebih, dan terakumulasi pada rawa. Lapisan organik yang lebih tipis dari 50 cm tidak dihitung sebagai gambut.
Tumbuh sangat lambat
Gambut tropis bertambah tebal kira-kira satu sampai tiga milimeter per tahun. Gambut setebal 5 meter berarti hasil penumpukan beberapa ribu tahun. Penelitian penanggalan karbon di Kalimantan menunjukkan sebagian gambut pedalaman sudah mulai terbentuk lebih dari 20.000 tahun lalu, sedangkan gambut pantai di Sumatra dan Kalimantan umumnya terbentuk dalam 7.000 tahun terakhir, setelah permukaan laut berhenti naik.
Kecepatan inilah yang membuat gambut nyaris tidak bisa diganti. Lapisan yang hilang dalam satu musim kebakaran atau satu dekade pengeringan baru akan tumbuh kembali dalam hitungan abad, itu pun kalau rawanya kembali basah.
Bentuknya seperti kubah
Di antara dua sungai, gambut yang terus menumpuk perlahan naik lebih tinggi di bagian tengah. Hasilnya adalah kubah gambut: tebal di tengah, menipis ke arah sungai atau pantai. Di Riau dan Kalimantan Tengah, bagian tengah kubah bisa lebih dari 10 meter tebalnya, sementara di tepinya hanya beberapa puluh sentimeter.
Kubah yang sudah tinggi tidak lagi mendapat air dari sungai. Satu-satunya sumber airnya adalah hujan. Gambut seperti ini disebut gambut ombrogen, artinya "terbentuk oleh hujan". Air hujan meresap ke kubah lalu mengalir pelan ke segala arah menuju sungai di sekelilingnya. Karena itu satu kubah gambut bekerja sebagai satu kesatuan air. Kanal yang digali di satu sisi bisa mengeringkan gambut berkilo-kilometer jauhnya. Kesatuan inilah yang di Indonesia diatur sebagai Kesatuan Hidrologis Gambut.
Sifat yang membuatnya istimewa
Gambut yang masih alami bisa menyimpan air sampai lebih dari 90 persen volumenya. Ia bekerja seperti spons raksasa: menahan air saat musim hujan dan melepasnya perlahan saat kemarau. Air gambut berwarna cokelat seperti teh karena asam organik dari sisa tumbuhan, dan sangat asam, dengan pH umumnya antara 3 dan 4,5.
Gambut juga sangat ringan. Satu liter gambut kering beratnya hanya sekitar 100 sampai 200 gram, jauh di bawah tanah mineral. Sekitar separuh dari berat keringnya adalah karbon. Karena itu lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah yang luar biasa besar untuk luasnya. Penjelasannya ada di Karbon di lahan gambut.
Kenapa mudah rusak
Semua sifat baik gambut bergantung pada satu syarat: ia harus tetap basah.
Begitu gambut dikeringkan, oksigen masuk dan pembusukan yang tertahan ribuan tahun langsung berjalan. Karbon yang tersimpan terlepas ke udara sebagai karbon dioksida. Permukaan tanah ikut turun karena gambut menyusut dan terurai. Gambut kering juga mudah terbakar dan sulit dipadamkan, karena api bisa menjalar di bawah permukaan.
Gambut yang terlalu kering bahkan bisa berubah sifat secara permanen. Ia menjadi seperti arang yang menolak air (kering tak balik, atau irreversible drying). Setelah titik ini, gambut tidak lagi bisa menyerap air seperti semula walaupun hujan kembali turun.
Itulah sebabnya pengelolaan gambut di Indonesia berpusat pada air. Aturan mewajibkan tinggi muka air tanah di lahan gambut budidaya dijaga tidak lebih dari 40 cm di bawah permukaan.
Di mana gambut Indonesia berada
Indonesia memiliki lahan gambut tropis terluas di Asia Tenggara. Sebagian besar ada di pesisir timur Sumatra (Riau, Jambi, Sumatera Selatan), Kalimantan (terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah), dan Papua bagian selatan. Berapa luas pastinya bergantung pada peta yang dipakai, dan perbedaannya cukup besar. Uraiannya ada di Sebaran dan luas gambut Indonesia. Di peta Gambut Intelijen, Anda bisa melihat sebaran dan ketebalannya untuk setiap provinsi dan kabupaten.
Sumber
- Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut, sebagaimana diubah dengan PP Nomor 57 Tahun 2016.
- Dommain, R., Couwenberg, J., Joosten, H. (2011). Development and carbon sequestration of tropical peat domes in south-east Asia: links to post-glacial sea-level changes and Holocene climate variability. Quaternary Science Reviews 30: 999–1010.
- Page, S.E., Rieley, J.O., Banks, C.J. (2011). Global and regional importance of the tropical peatland carbon pool. Global Change Biology 17: 798–818.
- Agus, F., Subiksa, I.G.M. (2008). Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre, Bogor.
- Wösten, J.H.M., Clymans, E., Page, S.E., Rieley, J.O., Limin, S.H. (2008). Peat–water interrelationships in a tropical peatland ecosystem in Southeast Asia. Catena 73: 212–224.