Akademi Gambut · Dasar-dasar gambut
Jenis dan kematangan gambut
Fibrik, hemik dan saprik, gambut pantai dan pedalaman, gambut ombrogen dan topogen. Cara membaca jenis gambut dan apa artinya bagi pengelolaan lahan.
Tidak semua gambut sama. Dua lahan gambut yang bersebelahan bisa berbeda jauh dalam hal kematangan, kesuburan, dan cara ia bereaksi saat dikeringkan. Ada tiga cara yang umum dipakai untuk membedakannya.
Menurut kematangan: fibrik, hemik, saprik
Kematangan menunjukkan seberapa jauh sisa tumbuhan sudah terurai. Cara paling sederhana di lapangan adalah meremas segenggam gambut basah lalu melihat berapa banyak serat tumbuhan yang tersisa di tangan.
- Fibrik adalah gambut yang paling mentah. Serat tumbuhannya masih jelas terlihat, bahkan potongan kayu dan akar masih utuh. Saat diremas, sebagian besar yang tertinggal di tangan adalah serat (lebih dari dua pertiga volumenya). Gambut fibrik sangat ringan dan berpori, menyimpan banyak air, tetapi daya dukungnya untuk tanaman dan bangunan rendah.
- Hemik setengah matang. Seratnya masih ada tetapi sudah banyak yang hancur, kira-kira sepertiga sampai dua pertiga volume.
- Saprik paling matang. Sisa tumbuhan sudah terurai menjadi bahan halus berwarna gelap, serat yang tersisa kurang dari sepertiga. Saprik lebih padat dan relatif lebih subur, tetapi sudah kehilangan sebagian besar kemampuan menyimpan air.
Pada lahan gambut alami, lapisan atas biasanya fibrik atau hemik, sedangkan lapisan yang lebih dalam bisa lebih matang. Pada lahan yang sudah lama dikeringkan dan diolah, lapisan atas justru cepat menjadi saprik karena oksigen mempercepat penguraian. Gambut yang menjadi saprik di permukaan setelah dibuka adalah tanda bahwa ia sedang kehilangan karbonnya.
Menurut sumber air: ombrogen dan topogen
- Gambut ombrogen hanya mendapat air dari hujan. Ini adalah gambut kubah yang tinggi, miskin hara dan sangat asam. Sebagian besar gambut di Sumatra dan Kalimantan termasuk jenis ini.
- Gambut topogen terbentuk di cekungan yang masih mendapat air dari sungai, rembesan, atau air pasang. Air dari luar membawa mineral, sehingga gambut topogen umumnya lebih subur dan tidak seasam gambut ombrogen. Biasanya lebih tipis.
Dalam satu kubah, tepinya sering bersifat topogen (masih tersentuh banjir sungai), sedangkan bagian tengahnya ombrogen.
Menurut letak: pantai, transisi, pedalaman
- Gambut pantai terbentuk di belakang hutan bakau dan rawa pasang surut. Umurnya relatif muda. Di bawahnya sering ada lapisan endapan laut yang mengandung pirit. Pirit aman selama terendam, tetapi kalau gambut di atasnya hilang dan lapisan itu terkena udara, pirit teroksidasi menjadi asam sulfat. Tanah menjadi sangat asam dan beracun bagi tanaman. Karena risiko ini, aturan gambut menganggap tersingkapnya lapisan pirit sebagai salah satu tanda kerusakan.
- Gambut transisi berada di antara pantai dan pedalaman, kadang masih terpengaruh air payau.
- Gambut pedalaman jauh dari laut, di dataran rendah aliran sungai besar. Di Kalimantan Tengah, gambut pedalaman bisa berumur puluhan ribu tahun dan sangat tebal.
Bagaimana jenis ini terlihat di peta
Peta resmi yang dipakai Gambut Intelijen belum memuat kematangan untuk setiap petak. Yang sudah tersedia untuk sebagian Kesatuan Hidrologis Gambut adalah kelas ketebalan dan fungsi lindung atau budidaya dari peta KLHK skala 1:50.000. Informasi kematangan biasanya hanya didapat dari pengeboran di lapangan, dan nantinya akan masuk ke lapis survei lapangan Gambut Intelijen.
Sumber
- Agus, F., Subiksa, I.G.M. (2008). Lahan Gambut: Potensi untuk Pertanian dan Aspek Lingkungan. Balai Penelitian Tanah dan World Agroforestry Centre, Bogor.
- Noor, M. (2001). Pertanian Lahan Gambut: Potensi dan Kendala. Kanisius, Yogyakarta.
- Soil Survey Staff (2014). Keys to Soil Taxonomy, edisi ke-12. USDA Natural Resources Conservation Service. (Kriteria fibrik, hemik dan saprik berdasarkan kandungan serat.)
- Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perubahan atas PP 71/2014, Pasal 23 (kriteria baku kerusakan ekosistem gambut fungsi budidaya).