Gambut Intelijen

Akademi Gambut · Dasar-dasar gambut

Ketebalan gambut dan cara mengukurnya

Kenapa ketebalan gambut menentukan boleh tidaknya lahan dibuka, bagaimana ketebalan diukur di lapangan, dan bagaimana membaca peta ketebalan.

3 menit baca · Diperbarui 16 Oktober 2026

Ketebalan gambut adalah jarak dari permukaan tanah sampai lapisan tanah mineral di bawahnya. Angka ini terdengar teknis, tetapi dampaknya sangat praktis. Ketebalan menentukan berapa banyak karbon yang tersimpan, seberapa jauh tanah bisa turun kalau dikeringkan, dan menurut aturan, apakah sebuah lahan harus dilindungi.

Kelas ketebalan

Di Indonesia, ketebalan gambut biasanya dikelompokkan seperti ini:

KelasKetebalan
Sangat dangkalkurang dari 0,5 m
Dangkal0,5 sampai 1 m
Sedang1 sampai 2 m
Dalam2 sampai 3 m
Sangat dalamlebih dari 3 m

Lapisan organik yang kurang dari 0,5 m secara hukum belum dihitung sebagai gambut, tetapi peta resmi tetap mencatatnya karena biasanya berada di tepi kubah.

Angka 3 meter

Gambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih wajib masuk fungsi lindung ekosistem gambut menurut PP 71/2014. Alasannya bukan sekadar angka bulat. Gambut setebal itu biasanya ada di bagian tengah kubah, tempat air seluruh kubah tertahan. Membuka dan mengeringkan bagian ini berarti menguras cadangan air untuk seluruh kubah, sekaligus melepaskan karbon dalam jumlah sangat besar. Itu sebabnya pada peta fungsi ekosistem gambut, hampir semua lahan dengan kelas "sangat dalam" juga ditandai sebagai fungsi lindung.

Cara mengukur di lapangan

Ketebalan gambut diukur dengan bor gambut. Alat yang paling umum adalah bor tipe Eijkelkamp (peat sampler), berupa tabung setengah lingkaran dengan sirip tajam yang ditekan ke dalam gambut, diputar, lalu ditarik keluar membawa contoh gambut utuh sepanjang 50 cm. Batang bor disambung terus sampai ujungnya menyentuh tanah mineral, yang terasa keras dan terlihat dari contoh berupa liat atau pasir.

Di lapangan, pengukuran biasanya dilakukan di sepanjang garis lurus (transek) yang memotong kubah dengan jarak teratur, misalnya setiap 500 meter. Dari deretan titik ini dapat digambar penampang kubah. Ketebalan antar titik kemudian diperkirakan dengan interpolasi, dibantu bentuk permukaan tanah dari data elevasi. Karena kubah gambut naik perlahan ke tengah, bentuk permukaan tanah memberi petunjuk penting tentang ketebalan di bawahnya.

Selain bor, ada metode geofisika seperti georadar (GPR) dan geolistrik yang bisa memetakan dasar gambut tanpa mengebor setiap titik. Metode ini tetap perlu dicocokkan dengan beberapa titik bor.

Membaca peta ketebalan

Peta ketebalan resmi yang dipakai di Gambut Intelijen adalah Peta Fungsi Ekosistem Gambut skala 1:50.000 dari KLHK, yang disajikan melalui Satu Peta. Peta ini memberi kelas ketebalan setiap 0,5 meter, dan untuk gambut sangat dalam setiap 1 meter. Di peta, ketebalan ditampilkan sebagai relief tiga dimensi: semakin tebal gambutnya, semakin tinggi bidangnya. Bentuk kubah langsung terlihat ketika peta dimiringkan.

Ada dua hal yang perlu diingat saat membaca peta ini:

  1. Peta 1:50.000 baru tersedia untuk sebagian Kesatuan Hidrologis Gambut. Di luar itu, peta nasional Kementerian Pertanian hanya menunjukkan sebaran gambut, tanpa ketebalan.
  2. Kelas ketebalan adalah rentang, bukan angka pasti. Kelas "3–4 m" berarti di petak itu gambut diperkirakan setebal 3 sampai 4 meter berdasarkan titik bor dan interpolasi. Untuk keputusan di tingkat kebun atau desa, pengeboran langsung tetap diperlukan.

Sumber