Akademi Gambut · Pemanfaatan dan restorasi
Restorasi gambut
Membasahi kembali, menanam kembali, dan menghidupkan ekonomi warga. Cara kerja sekat kanal, timbun kanal dan sumur bor, serta tantangan restorasi di lapangan.
Restorasi gambut adalah upaya mengembalikan fungsi ekosistem gambut yang rusak, terutama fungsinya menyimpan air. Setelah kebakaran besar 2015, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) lewat Perpres 1/2016, yang kemudian diperluas menjadi Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) lewat Perpres 120/2020.
Pendekatan yang dipakai dikenal sebagai 3R: rewetting (pembasahan kembali), revegetation (penanaman kembali), dan revitalization of livelihoods (revitalisasi mata pencaharian).
Pembasahan kembali
Langkah pertama dan terpenting adalah mengembalikan air. Tanpa air, penanaman kembali akan mati kekeringan atau terbakar.
- Sekat kanal. Bendungan kecil dari kayu, papan, karung tanah, atau beton dibangun melintang di kanal untuk menahan aliran air keluar dari kubah. Sekat yang bertingkat di sepanjang kanal menaikkan muka air seperti anak tangga. Sekat yang baik dibangun di titik yang tepat, dirawat, dan diberi pelimpah agar tidak jebol saat banjir.
- Timbun kanal. Kanal ditutup seluruhnya dengan tanah atau gambut. Lebih efektif menahan air, tetapi lebih mahal dan menutup jalur transportasi warga, sehingga perlu kesepakatan.
- Sumur bor. Sumur dangkal di lahan gambut yang menjadi sumber air untuk memadamkan api sejak dini. Sumur bor tidak membasahi gambut secara luas, tetapi sangat penting untuk pemadaman awal.
Penanaman kembali
Lahan gambut yang sudah terbakar berulang sering ditumbuhi pakis dan semak yang mudah terbakar lagi. Penanaman kembali memakai jenis asli rawa gambut seperti jelutung, balangeran, gelam dan meranti rawa, dengan bibit dari persemaian lokal. Penanaman bisa dengan bibit, dengan biji langsung, atau dengan membiarkan suksesi alami berjalan setelah air kembali. Kunci keberhasilannya tetap air: bibit di lahan yang masih kering jarang bertahan lewat kemarau pertama.
Revitalisasi mata pencaharian
Restorasi hanya bertahan kalau masyarakat di sekitarnya mendapat manfaat. Program revitalisasi mendukung usaha yang cocok dengan gambut basah, seperti perikanan, madu kelulut, anyaman purun, sagu, dan pertanian tanpa bakar. Desa Peduli Gambut adalah salah satu program yang menempatkan desa sebagai pelaku restorasi.
Tantangan di lapangan
Restorasi gambut tidak selesai saat sekat kanal dibangun. Masalah yang sering muncul:
- Sekat rusak atau dibongkar karena menghalangi perahu dan kanal angkut.
- Sekat dibangun di titik yang kurang tepat sehingga air tidak naik di tempat yang dibutuhkan.
- Tidak ada data muka air sebelum dan sesudah, sehingga hasilnya tidak bisa dibuktikan.
- Kebakaran ulang sebelum vegetasi pulih.
Karena itu pengukuran tinggi muka air tanah yang rutin adalah bagian dari restorasi itu sendiri. Hanya dengan angka TMAT yang tercatat, keberhasilan pembasahan bisa dinilai secara jujur.
Sumber
- Peraturan Presiden Nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut.
- Peraturan Presiden Nomor 120 Tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.
- Peraturan Menteri LHK Nomor P.16/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Pedoman Teknis Pemulihan Fungsi Ekosistem Gambut.
- Giesen, W., Nirmala Sari, E. (2018). Tropical Peatland Restoration Report: the Indonesian case. Berbak Green Prosperity Partnership, Millennium Challenge Account Indonesia.
- Dohong, A., Aziz, A.A., Dargusch, P. (2018). A review of techniques for effective tropical peatland restoration. Wetlands 38: 275–292.