Akademi Gambut · Kebakaran dan banjir
Kebakaran gambut
Kenapa gambut bisa terbakar di bawah permukaan, kenapa apinya begitu sulit dipadamkan, dari mana asapnya berasal, dan bagaimana mencegahnya.
Gambut basah tidak bisa terbakar. Gambut kering adalah bahan bakar yang hampir sempurna: ringan, berpori, kaya karbon, dan tersedia dalam lapisan setebal beberapa meter. Hampir semua kebakaran besar di Indonesia berawal di lahan gambut yang airnya sudah turun jauh di bawah permukaan.
Api yang membara di bawah tanah
Kebakaran di hutan tanah mineral umumnya berupa api permukaan. Daun dan ranting kering terbakar dengan nyala api, lalu padam setelah bahan bakarnya habis.
Kebakaran gambut berbeda. Setelah lapisan permukaan menyala, api masuk ke dalam gambut dan membara tanpa nyala (smouldering). Suhunya lebih rendah daripada api biasa, tetapi bisa bertahan berhari-hari bahkan berminggu-minggu, merambat pelan di bawah permukaan mengikuti lapisan gambut yang kering. Api bisa muncul kembali di permukaan beberapa puluh meter dari tempat awalnya, sehingga lahan yang sudah tampak padam bisa terbakar lagi.
Kedalaman bakaran mengikuti muka air. Api biasanya berhenti di dekat muka air tanah, karena gambut di bawahnya basah. Itu sebabnya lahan dengan tinggi muka air tanah yang dalam bukan hanya lebih mudah terbakar, tetapi juga terbakar lebih dalam.
Kenapa sulit dipadamkan
Menyiram permukaan tidak cukup. Air harus menembus ke lapisan yang membara, dan gambut kering justru cenderung menolak air sampai benar-benar jenuh. Pemadaman yang efektif membutuhkan air dalam jumlah besar yang disuntikkan ke dalam tanah, sumber air yang dekat (kanal, sumur bor), dan waktu. Pemadaman dari udara dengan bom air membantu menekan api permukaan, tetapi jarang mematikan bara di bawah.
Dalam praktiknya, kebakaran gambut besar sering baru benar-benar padam ketika musim hujan datang.
Asap
Pembakaran yang membara berlangsung dengan oksigen terbatas, sehingga menghasilkan jauh lebih banyak asap, karbon monoksida dan partikel halus daripada api biasa. Asap gambut kaya partikel PM2,5 yang masuk sampai ke paru-paru. Pada musim kebakaran besar, kualitas udara di kota-kota di Sumatra dan Kalimantan bisa berada di tingkat berbahaya selama berminggu-minggu, dan asapnya terbawa sampai ke negara tetangga.
Musim kebakaran dan El Niño
Kebakaran gambut paling parah terjadi saat kemarau panjang, terutama pada tahun El Niño. Pada 2015, kebakaran menghanguskan sekitar 2,6 juta hektare, dan Bank Dunia memperkirakan kerugiannya sekitar 16 miliar dolar AS, belum termasuk dampak kesehatan jangka panjang. Kebakaran besar juga terjadi pada 1997, 2006, 2014 dan 2019.
Peta Gambut Intelijen memperlihatkan polanya: arsip satelit VIIRS sejak 2012 mencatat lonjakan titik panas di lahan gambut pada 2014, 2015 dan 2019.
Bagaimana mencegahnya
Pencegahan yang paling efektif adalah menjaga gambut tetap basah sebelum musim kemarau tiba:
- Sekat kanal menahan air agar muka air tanah tidak turun.
- Sumur bor di lahan gambut menyediakan air untuk pemadaman awal.
- Pemantauan TMAT dan kekeringan memberi tanda bahaya sebelum api muncul.
- Larangan membakar untuk membuka atau membersihkan lahan, yang diatur dalam PP 71/2014 jo. PP 57/2016.
- Deteksi dini: titik panas dari satelit yang ditindaklanjuti dalam hitungan jam, sebelum api masuk ke dalam gambut.
Di peta Gambut Intelijen ada dua lapisan untuk membaca risiko sebelum terjadi: Kekeringan hari ini, yang menghitung Drought Code dari cuaca harian dan prakiraan tujuh hari, dan Risiko kebakaran gambut 1 km, model kami yang menggabungkan cuaca, kekeringan dan riwayat kebakaran. Model ini diuji pada data 2021–2025 dan akurasinya dicantumkan di halaman sumber data.
Sumber
- Usup, A., Hashimoto, Y., Takahashi, H., Hayasaka, H. (2004). Combustion and thermal characteristics of peat fire in tropical peatland in Central Kalimantan, Indonesia. Tropics 14(1): 1–19.
- World Bank (2016). The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia's 2015 Fire Crisis. Indonesia Sustainable Landscapes Knowledge Note 1.
- Huijnen, V., Wooster, M.J., Kaiser, J.W., dkk. (2016). Fire carbon emissions over maritime southeast Asia in 2015 largest since 1997. Scientific Reports 6: 26886.
- Rein, G. (2013). Smouldering fires and natural fuels. Dalam Fire Phenomena and the Earth System, Wiley-Blackwell, hlm. 15–33.
- Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2014 jo. PP Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut.